MSI, Pendamping Penderita Kelainan Tulang Belakang
Suara Pembaruan, Minggu 21 November 2010
Hari itu menjadi hari yang tidak biasa bagi pasangan suami istri, Riko dan Tina. Bisa jadi hari tersebut merupakan hari paling buruk yang pernah mereka jalani bersama. Hal tersebut dipicu dari ketidaksengajaan mereka ketika menemukan kejanggalan pada bentuk tulang belakang si sulung, Saskia yang mulai beranjak remaja. Kejanggalan tersebut terdapat pada bentuk tulang belakang Saskia yang mengalami pembengkokan menyerupai huruf “S”. Merasa tidak percaya dengan yang dihadapi kedua pasangan ini mencari informasi melalui berbagai media, termasuk internet tentang penanganan penyakit ini dan mencari dokter yang ahli di bidang tulang belakang.
Hasilnya? Bersyukurlah mereka karena kini ada sebuah wadah bernama Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI) yang memberikan informasi tentang penanganan serta memberikan pendampingan kepada penderita kelainan tulang belakang atau yang dalam bahasa medis disebut juga dengan skoliosis. Organisasi yang didirikan dua tahun yang lalu tersebut bertujuan untuk menjadi sebuah organisasi sosial yang dapat memberikan informasi sebanyak mungkin dan benar serta menjadi ajang pertukaran informasi bagi para penderita atau disebut skolioser.
Banyak masyarakat yang kurang mengetahui dan tidak mendapatkan informasi mengenai skoliosis ini menyebabkan mereka menempuh pengobatan bukan medis atau alternatif. Sehingga hal ini dalam banyak kasus malah memperparah kondisi kesehatan skolioser. Berdasarkan pengalaman ini, sejumlah praktisi medis, pemerhati, penderita, dan keluarga penderita skoliosis yang terdiri dari Dr Rahyussalim, Dr Masdalina Pane, Eka Kartika Sanur, Siti Swanti, dan Ratih Amelia serta Redya berinisiatif mendirikan organisasi ini.
“Pada mulanya, organisasi ini terbentuk berawal dari keprihatinan seorang praktisi medis yang fokus pada penanganan kelainan tulang belakang, yaitu Dr Rahyussalim yang banyak menemukan sejumlah penderita skoliosis sudah dalam kondisi yang sangat berat karena salah penanganan, lalu keprihatinan ini mempertemukan mereka, pendiri organisasi ini untuk bergerak melakukan sesuatu bagi para penderita skoliosis,” ujar Wakil Ketua MSI, Trie Kurniawati menjelaskan.
MSI sebagai sebuah wadah bagi para penderita skoliosis tidak saja memberikan informasi yang tepat mengenai kelainan tulang ini, tetapi kegiatan dari MSI juga telah menjangkau berbagai aspek seperti sosial ekonomi dengan menyelenggarakan bulan donasi skoliosis, aspek pendidikan bekerja sama dengan pihak terkait menyelenggarakan seminar, talk show, dan pengecekan gratis di sekolah-sekolah serta melakukan penelitian atau riset setiap tahun.
Skoliosis di Indonesia
Anggota dari komunitas skolioser saat ini telah mencapai 1.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Para anggota tidak seluruhnya merupakan penderita, tetapi banyak dari mereka adalah orang-orang yang peduli terhadap skoliosis dan para penderita kelainan tulang belakang. Perwakilan dari MSI pun kini tidak hanya terdapat di Jakarta saja, tetapi beberapa daerah juga mulai membuka kantor perwakilan di daerahnya, seperti di Surabaya, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Kegiatan lain berupa gathering dan bertukar informasi antar anggota MSI pun diselenggarakan secara rutin setiap tiga bulan sekali.
Skoliosis sendiri ditemukan sebesar 4-4,5 persen dari jumlah populasi umum penduduk di Indonesia, jumlah yang cukup parah sehingga memerlukan bantuan medis. Secara umun, skoliosis dibagi menjadi dua, yaitu skoliosis postural yang disebabkan sebagai kompensasi dari keadaan di luar tulang belakang dan skoliosis struktural yang terbagi lagi menjadi empat kategori; congenital, degenerative, neuromuscular, dan idiopatik. Untuk di Indonesia sendiri, banyak ditemukan jenis skoliosis struktural dengan kategori idiopatik atau jenis skoliosis yang banyak ditemukan pada remaja.
“Di Indonesia saat ini banyak ditemui skoliosis dengan jenis idiopatik, untuk jenis ini berdasarkan sejumlah penelitian tidak ditemukan penyebabnya, oleh sebab itu langkah preventif harus dilakukan sebanyak dua fase, pertama dengan melakukan screening sejak dini pada anak di usia 5-6 tahun dan kedua di usia 12-14 tahun remaja atau memasuki masa menstruasi pertama pada anak perempuan, serta mengenali gejala-gejalanya dengan mengamati garis tulang punggung dengan posisi membungkuk 90 derajat ke depan (adam forward bend) untuk melihat simetris atau tidak simetris posisi tulang belakang,” ujar Trie menjelaskan.
Jika terdapat kejanggalan penderita skoliosis harus ditangani dengan tenaga medis ahli tulang belakang berdasarkan kategori dari hasil pemeriksaan awal. Jika terdapat skoliosis ringan atau fungsional dengan derajat kebengkokan di bawah 20 derajat pasien hanya dianjurkan untuk melakukan observasi melihat perkembangan kurva setiap tahun, untuk kategori sedang dengan kebengkokan 20-40 derajat, penderita dianjurkan untuk memakai brace dan kategori berat dengan kebengkokan di atas 40 derajat perlu dilakukan operasi.
Selain itu olahraga yang dianjurkan bagi penderita skoliosis adalah berenang dan stretching yang tentunya dilakukan dengan pengawasan intensif dari dokter orthopedic. Beberapa hal lainnya seperti chiropractic, yoga, dan pilates juga boleh dilakukan untuk menghambat progresivitas kurva dan mengurangi rasa sakit. “Lepas dari semua itu langkah terbaik adalah dengan melakukan tindakan preventif yang telah saya jelaskan di atas, tetapi jika terdeteksi skoliosis tidak usah khawatir dan panik, karena kami siap membantu,” ujar ibu tiga anak ini menutup pembicaraan. [SP/Ignatius Liliek]


